Bukan Parfum Floral Biasa, Ini Pilihan Aroma Bunga Tropis yang Jadi Favorit Gen Z

5 hours ago 9

Fimela.com, Jakarta - Selera Gen Z terhadap parfum semakin berkembang. Jika dulu aroma floral identik dengan kesan feminin yang manis dan klasik, kini generasi muda justru mencari wewangian bunga dengan karakter yang lebih ringan, fresh, dan memiliki twist yang tidak biasa.

Tren ini sejalan dengan perubahan cara generasi muda memandang parfum. Wewangian tidak lagi sekadar pelengkap penampilan, tetapi menjadi bagian dari ekspresi diri. Aroma tertentu bisa dipilih untuk menggambarkan mood, kepribadian, bahkan suasana yang ingin dibangun sepanjang hari.

Sejumlah media kecantikan internasional juga melihat adanya kebangkitan aroma floral dalam beberapa tahun terakhir. Allure mencatat floral fragrance mengalami resurgence, tetapi hadir dengan pendekatan berbeda. Para perfumer kini mencoba menciptakan aroma bunga yang terasa lebih natural, airy, dan menyerupai karakter bunga di alam, bukan floral yang terlalu berat atau tradisional.

Sementara itu, tren fruity-floral kembali populer dengan komposisi yang lebih kompleks. Bukan lagi sekadar perpaduan bunga dan buah yang manis, aroma seperti rhubarb, orange flower, strawberry, hibiscus, nectarine, dan pear digunakan untuk menciptakan karakter yang lebih unik.

Menariknya, tren tersebut juga membuka ruang bagi aroma bunga tropis. Karakter bunga seperti melati, tuberose, gardenia, hingga frangipani menawarkan kesan feminin sekaligus sensual, tetapi dapat terasa lebih modern ketika dipadukan dengan musk, buah, citrus, atau woody notes.

1. Melati, Floral Klasik dengan Sentuhan Modern

Melati menjadi salah satu bunga yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Aromanya floral, lembut, dan memiliki karakter yang mudah dikenali.

Dalam dunia parfum modern, melati tidak harus hadir sebagai aroma yang terlalu pekat. Bunga ini dapat dipadukan dengan berbagai notes lain untuk menghasilkan wangi yang lebih ringan dan effortless.

Salah satu interpretasinya hadir melalui A Le Mina dari Kalvent Fragrance. Terinspirasi dari bahasa Suku Karo yang berarti “membuat segala hal menjadi baik”, parfum ini memadukan aroma Melati dengan Tuberose atau Sedap Malam.

Perpaduan keduanya menghadirkan karakter floral yang feminin sekaligus memiliki kedalaman. Cocok untuk Gen Z yang ingin mengenakan aroma bunga, tetapi tetap menginginkan signature scent yang terasa personal.

2. Tuberose untuk Kesan Feminin yang Lebih Berani

Jika melati memberikan kesan lembut, tuberose atau sedap malam memiliki karakter yang lebih intens.

Bunga ini dikenal memiliki aroma floral yang creamy dan sensual. Ketika digunakan dalam parfum, tuberose dapat memberikan kesan sophisticated tanpa harus membuat keseluruhan aroma terasa terlalu dewasa.

Karakter tersebut membuatnya menarik bagi generasi muda yang mulai bereksperimen dengan wewangian. Floral tidak lagi harus berarti “girly”, tetapi bisa menjadi sensual, confident, bahkan edgy.

Bahkan, Allure mencatat bahwa parfum floral masa kini semakin jauh dari stereotip aroma bunga yang powdery. Tuberose, jasmine, dan gardenia justru dapat dipadukan dengan pear, musk, amber, maupun buah untuk menciptakan wangi yang lebih multidimensional.

3. Frangipani, Aroma Tropis yang Membawa Suasana Liburan

Bunga tropis lainnya yang menarik untuk dicoba adalah frangipani atau kamboja.

Aroma ini memiliki karakter floral yang lembut dengan nuansa creamy dan sedikit eksotis. Tidak mengherankan jika frangipani sering digunakan untuk menghadirkan kesan summer dan tropical escape.

Dalam ulasan Allure, frangipani juga disebut sebagai salah satu floral note yang semakin menarik perhatian. Salah satu interpretasinya hadir melalui Jo Malone London Frangipani Flower Cologne yang memadukan frangipani dengan jasmine, lemon, dan sandalwood untuk menciptakan kesan tropis yang tetap elegan.

Bagi Gen Z, aroma seperti ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar wangi. Ia membawa suasana—seperti berjalan di taman tropis atau menikmati sore di destinasi liburan.

4. Floral yang Lebih Fresh dan Tidak Terlalu “Old School”

Perubahan terbesar dalam tren floral fragrance adalah cara bunga tersebut dikemas.

Gen Z cenderung tidak terpaku pada satu signature scent. Tren parfum 2026 justru bergerak menuju eksplorasi, layering, dan penggunaan wewangian berdasarkan mood, momen, maupun musim. Vogue menyebut bahwa gagasan untuk memiliki satu signature scent mulai terasa kurang relevan, karena konsumen semakin terbuka untuk bereksperimen dengan aroma.

Karena itu, parfum floral dengan karakter yang transparan, fruity, musky, atau tropical menjadi lebih menarik. Aroma bunga tetap menjadi pusat perhatian, tetapi tidak mendominasi keseluruhan komposisi.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Beauty |