Ikuti Tren Skincare Viral Bikin Seseorang Jadi Punya Kulit Sensitif, Kenali Tanda-Tandanya

10 hours ago 8

Fimela.com, Jakarta - Geliat industri skincare di Tanah Air terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan kulit masyarakat Indonesia. Informasi yang begitu masifnya tersebar di media sosial menciptakan tren skincare yang bikin masyarakat FOMO alias Fear of Missing Out.

Hal ini mendorong masyarakat untuk menggunakan skincare hanya karena sedang naik daun. Namun apakah harus diikuti semuanya?

Banyak ahli kecantikan menyebut tidak semua skincare yang sedang viral harus diikuti atau dicoba. Cukup gunakan yang memang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan kulit saat itu. Kebiasaan mengikuti tren tanpa penelitian yang mendalam akan berpotensi merusak skin barrier yang akhirnya bikin kulit iritasi dan sensitif.

Dermatologis dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE bercerita dirinya semakin banyak menerima pasian dengan kulit sensitif akibat salahmelakukan perawatan kulit. Kebanyakan pasien yang tiba-tiba mengalami kulit sensitif karena kebiasaan mencampur berbagai bahan aktif dalam satu rutinitas skincare.

"Banyak pasien memakai berbagai bahan aktif sekaligus karena mengikuti tren di media sosial. Padahal belum tentu cocok dengan kondisi kulitnya. Akibatnya justru muncul iritasi dan skin barrier menjadi rusak," ujar dr. Hafiza dalam sebuah diskusi.

Dampak Asal Mencoba Skincare Viral

Selain faktor genetik, dr. Hafiza menyebut kulit sensitif bisa merujuk pada sebuah kondisi akibat penggunaan produk skincare yang kandungan terlalu keras, layering skincare yang terlalu banyak, dan perawatan yang terlalu agresif. Paparan polusi hingga cuaca ekstrem turut meningkatkan risiko masyarakat Indonesia terhadap kulit sensitif.

Ada beberapa tanda kulit sensitif yang akan muncul akibat bahan skincare yang tidak cocok. Mulai dari kemerahan, rasa seperti terbakar, gatal, beruntusan hingga kulit mengelupas. Dalam beberapa kondisi, seseorang akan menjadi lebih sensitif terhadap hawa panas dan sinar matahari.

Efek domino dari tren skincare viral membuat tugas dokter kulit tidak hanya sekadar memberikan perawatan untuk mengembalikan kondisi skin barrier. Melainkan juga menjadi edukator yang relevan dan terpercaya, terutama di tengah dunia digital yang semakin masif.

Peran Dokter Kulit

Hal ini dipertegas dalam sebuah gerakan yang diinisiasi Isispharma dan Regenesis Indonesia yang bertajuk Dermfluencer Movement. Gerakan ini mendorong para tenaga medis untuk dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan informasi yang valid. Setiap konten yang dibuat wajib didasari oleh hasil penelitian, etika profesi, dan menjawab kebutuhan pasien.

"Melalui Dermfluencer Movement, kami ingin mendorong para dermatolog untuk membagikan keahlian mereka secara digital, memperkuat edukasi, kredibilitas, dan keterlibatan pasien. Inisiatif ini juga mencerminkan arah masa depan dan alasan utama mengapa Isispharma hadir," kata Founder Isispharma, Gregoire Dewavrin.

Di tengah banjir informasi digital, kehadiran dokter yang aktif berbagi pengetahuan berbasis sains menjadi angin segar bagi masyarakat yang ingin memahami kulitnya secara lebih aman, tepat, dan bertanggung jawab. Memberikan panduan digital bagi masyarakat untuk memilih produk perawatan harian maupun tindakan klinis yang sesuai dengan kebutuhan kulitnya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
  • Nabila Mecadinisa
Read Entire Article
Beauty |